Sabtu, 29 April 2017

Tugas Softskill Bahasa Inggris Bisnis 2



Tugas Softskill
Bahasa Inggris Bisnis 2 #


 
Nama                   : FELLY AULIA
NPM                    : 13213399
Kelas                    : 4EA23





Universitas Gunadarma
2017

Type 1
1.       If I work hard, I will have a lot of money
2.       If I study hard, I will get good score in exam
3.       If I get up early, I will go gym
4.       If I eat mcdonald, I will be happy
5.       If I drink coffee, I will get excited to work
6.       If the road is jammed, I will be riding a motorcycle
7.       If the heavy rains of my place will be flooded
8.       If I get sick, I will go to the hospital
9.       If he sleeps without a pillow he will be sick
10.   If the weather is sunny adli will go to fishing

Type 2
1.       If I had a lot of money, I wold buy an expensive bag
2.       If I were you, I wold work in that foreign company
3.       If I had got high score in the national examination, I wold have studied in a state university
4.       We wold have got the ticket if we had come earlier
5.       If Nia lived in Jakarta last year, Nia wold come to my place
6.       He played a game, he wold always win
7.       If I was here last night, I wold meet my friend’s
8.       If Rina invited me to her party, I wold be there
9.       If Rian had enough money, he wold buy bikecycle
10.   If she found her friend address, she wold go to her friend place

Type 3
1.       If there had been a public transportation, Jenifer would have been late
2.       If My mother had known to make delicious rice fried, I would not have bought it
3.       If Keyla had been a teacher in this class, if I would have been a leader in the class
4.       If there had been much vegetable, my mother did not cook because
5.       If we had finished oue exam, we would have asked us to collect them
6.       If Ramzam had known that still had bread in refrigerator, he would not have bought a bread
7.       If Fiona had gone by motorcycle, she would have been her
8.       If it had rained, you would have gotten wet
9.       If Rina had known her friend were coming, Rina would have bought a cake
10.   If the weather been nice they would have played football

Rabu, 29 Maret 2017

Tugas Softskill Bahasa Inggris Bisnis 2



Tugas Softskill
Bahasa Inggris Bisnis 2 #

Nama                   : FELLY AULIA
NPM                    : 13213399
Kelas          : 4EA23






Universitas Gunadarma
2017


New rule passes to support data exchange

Frasa
1.      In a change to previous regulations
2.      By request
3.      To the financial data
4.      Of the two previous regulations
5.      Should be change
6.      By adopting
7.      Of the tax amnesty
8.      To facili tate foreign clients
9.      The Capital Markets Law
10.  The priority for the government

Sentence
1.      The government has passed a new rule that permits international information exchange for taxation purposes.
2.      The rule will serve as a secondlayer rule to implement the Automatic Exchange of Information (AEOI) endorsed by the Organization for Economic Coopration and Development (OECD)
3.      The new rule requires “automatic” information swaps between Indonesia and foreign.
4.      In a bid to accommodate some present and future changes in internasional tax pacts.
5.      Indonesia’s compliance with the AEOI is part of its ongoing efforts to increase its tax revenues.
6.      The new regulation will effectively support its tax amnesty  program.
7.      The government will be able to trace assets held by Indonesians overseas.
8.      The financial authority is currently preparing a circular to further lay out the details of the policy.
9.      The government targets the Perppu to take effect in May to upgrade Indonesian’s status from “partially complaint” to “largrly complaint”.
10.  The (global) assement (for AEOI) looks into primary and secondary legal frameworks.







Sabtu, 07 Januari 2017

TUGAS INDIVIDU ETIKA BISNIS#




TUGAS INDIVIDU
SOFTSKILL ETIKA BISNIS#


NAMA           : FELLY AULIA
KELAS          : 4EA23
NPM               : 13213399



Universitas Gunadarma
2016


Mata Kuliah : Etika Bisnis#
Sub Pokok Bahasan: Pemalsuan

Kasus Pemalsuan (Laporan Keuangan)
Laporan keuangan yang diterbitkan oleh setiap perusahaan mempunyai fungsi tersendiri bagi penggunanya. Seperti contohnya dari pihak manajemen intern perusahaan laporan keuangan dapat digunakan sebagai evaluasi kinerja perusahaan, kompensasi dan pengembangan karier. Bukan hanya untuk pihak intern saja, laporan keuangan juga dibutuhkan dari pihak luar sebagai dasar perhitungan pajak bagi pemerintah, sebagai pertimbangan dalam pemberian kredit bagi kreditor, dan juga sebagai tolak ukur kinerja perusahaan bagi investor

Contoh Kasus :
PT KERETA API INDONESIA (PT KAI) terdeteksi adanya kecurangan dalam penyajian laporan keuangan. Ini merupakan suatu bentuk penipuan yang dapat menyesatkan investor dan stakeholder lainnya. Kasus ini juga berkaitan dengan masalah pelanggaran kode etik profesi akuntansi. Diduga terjadi manipulasi data dalam laporan keuangan PT KAI tahun 2005, perusahaan BUMN itu dicatat meraih keutungan sebesar Rp6,9 Miliar. Padahal apabila diteliti dan dikaji lebih rinci, perusahaan justru menderita kerugian sebesar Rp63 Miliar.

Komisaris PT KAI Hekinus Manao yang juga sebagai Direktur Informasi dan Akuntansi Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan mengatakan, laporan keuangan itu telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik S. Manan. Audit terhadap laporan keuangan PT KAI untuk tahun 2003 dan tahun-tahun sebelumnya dilakukan oleh Badan Pemeriksan Keuangan (BPK), sedangkan untuk tahun 2004 diaudit oleh BPK dan akuntan publik.

Hasil audit tersebut kemudian diserahkan Direksi PT KAI untuk disetujui sebelum disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham, dan Komisaris PT KAI yaitu Hekinus Manao menolak menyetujui laporan keuangan PT KAI tahun 2005 yang telah diaudit oleh akuntan publik. Setelah hasil audit diteliti dengan seksama, ditemukan adanya kejanggalan dari laporan keuangan PT KAI tahun 2005 sebagai berikut :
1)    Pajak pihak ketiga sudah tiga tahun tidak pernah ditagih, tetapi dalam laporan keuangan itu dimasukkan sebagai pendapatan PT KAI selama tahun 2005. Kewajiban PT KAI untuk membayar surat ketetapan pajak (SKP) pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar Rp 95,2 Miliar yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak pada akhir tahun 2003 disajikan dalam laporan keuangan sebagai piutang atau tagihan kepada beberapa pelanggan yang seharusnya menanggung beban pajak itu. Padahal berdasarkan Standar Akuntansi, pajak pihak ketiga yang tidak pernah ditagih itu tidak bisa dimasukkan sebagai aset. Di PT KAI ada kekeliruan direksi dalam mencatat penerimaan perusahaan selama tahun 2005.
2)   Penurunan nilai persediaan suku cadang dan perlengkapan sebesar Rp24 Miliar yang diketahui pada saat dilakukan inventarisasi tahun 2002 diakui     manajemen PT KAI sebagai kerugian secara bertahap selama lima tahun. Pad    akhir tahun 2005 masih tersisa saldo penurunan nilai yang belum dibebankan sebagai kerugian sebesar Rp6 Miliar, yang seharusnya dibebankan seluruhnya dalam tahun 2005.
3)   Bantuan pemerintah yang belum ditentukan statusnya dengan modal total nilai kumulatif sebesar Rp674,5 Miliar dan penyertaan modal negara sebesar Rp70 Miliar oleh manajemen PT KAI disajikan dalam neraca per 31 Desember 2005 sebagai bagian dari hutang.
4)   Manajemen PT KAI tidak melakukan pencadangan kerugian terhadap kemungkinan tidak tertagihnya kewajiban pajak yang seharusnya telah dibebankan kepada pelanggan pada saat jasa angkutannya diberikan PT KAI tahun 1998 sampai 2003.

Perbedaan pendapat terhadap laporan keuangan antara Komisaris dan auditor akuntan publik terjadi karena PT KAI tidak memiliki tata kelola perusahaan yang baik. Ketiadaan tata kelola yang baik itu juga membuat komite audit (komisaris) PT KAI baru bisa mengakses laporan keuangan setelah diaudit akuntan publik. Akuntan publik yang telah mengaudit laporan keuangan PT KAI tahun 2005 segera diperiksa oleh Badan Peradilan Profesi Akuntan Publik. Jika terbukti bersalah, akuntan publik itu diberi sanksi teguran atau pencabutan izin praktik.

Kasus PT KAI berawal dari pembukuan yang tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Sebagai akuntan sudah selayaknya menguasai prinsip akuntansi berterima umum sebagai salah satu penerapan etika profesi. Kesalahan karena tidak menguasai prinsip akuntansi berterima umum bisa menyebabkan masalah yang sangat menyesatkan.

Laporan Keuangan PT KAI tahun 2005 disinyalir telah dimanipulasi oleh pihak-pihak tertentu. Banyak terdapat kejanggalan dalam laporan keuangannya. Beberapa data disajikan tidak sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Hal ini mungkin sudah biasa terjadi dan masih bisa diperbaiki. Namun, yang menjadi permasalahan adalah pihak auditor menyatakan Laporan Keuangan itu Wajar Tanpa Pengecualian. Tidak ada penyimpangan dari standar akuntansi keuangan. Hal ini lah yang patut dipertanyakan.

Dari informasi yang didapat, sejak tahun 2004 laporan PT KAI diaudit oleh Kantor Akuntan Publik. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang melibatkan BPK sebagai auditor perusahaan kereta api tersebut. Hal itu menimbulkan dugaan kalau Kantor Akuntan Publik yang mengaudit Laporan Keuangan PT KAI melakukan kesalahan.

Profesi Akuntan menuntut profesionalisme, netralitas, dan kejujuran. Kepercayaan masyarakat terhadap kinerjanya tentu harus diapresiasi dengan baik oleh para akuntan. Etika profesi yang disepakati harus dijunjung tinggi. Hal itu penting karena ada keterkaitan kinerja akuntan dengan kepentingan dari berbagai pihak. Banyak pihak membutuhkan jasa akuntan. Pemerintah, kreditor, masyarakat perlu mengetahui kinerja suatu entitas guna mengetahui prospek ke depan. Yang Jelas segala bentuk penyelewengan yang dilakukan oleh akuntan harus mendapat perhatian khusus. Tindakan tegas perlu dilakukan.